Bandung Klunkerz: Menembus Hutan-hutan dalam Hujan
Oleh Yopi Setia Umbara (Opet)
Sabtu, 24 November 2012, cuaca pagi di Bandung cukup cerah. Tujuh sepeda klunkerz milik Iman, Wisnu, Adi, Taryono, Bojes, Yussak, dan saya sendiri, serta tiga Sepeda MTB milik Aflah (Full Sus), Jody, dan Anto berjajar di halaman markas Bandung Klunkerz di Jalan Pasundan 74, Bandung. Sepeda-sepeda tersebut akan diajak (offroad) downhill oleh para pemiliknya.
Jalur Downhill yang akan ditempuh adalah, pertama-tama menjajal Trek Kobra di Cikole lalu dilanjutkan dengan (offroad) downhill Cikole-Jayagiri-Leuweung Poek-Sukawana-Parongpong.
Aura cerah seperti langit pagi hari itu juga tampak pada wajah teman-teman yang tergabung di Bandung Klunkerz. Wajarlah, karena hari itu adalah hari yang ditunggu-tunggu, setelah hampir satu bulan lebih tidak melakukan kegiatan (offroad) downhill di alam terbuka membuat teman-teman Bandung Klunkerz penuh semangat.
Kurang lebih pukul 07.30 WIB, 10 sepeda tersebut diangkut menggunakan mobil box milik perusahaan orangtua Aflah. Sepeda ditata seapik mungkin di dalam box supaya tidak acak-acakan dan tidak menyebabkan kerusakan. Sebelum dinaikan ke atas mobil, ban depan sepeda dibuka terlebih dahulu supaya rapi. Sementara para pemiliknya diangkut dengan sebuah angkutan umum yang disewa dari uang hasil iuran. Semuanya menuju Cikole.
Perjalanan dari Jalan Pasundan 74 menuju Cikole memakan waktu kurang lebih satu setengah jam. Agak lama memang, lantaran kendaraan yang ditumpangi teman-teman Bandung Klunkerz tidak dipacu dengan terburu-buru. Memasuki pintu gerbang (di depan Bumi Perkemahan) Cikole teman-teman membayar karcis masuk seharga Rp. 10 K, diwakili oleh Taryono.
Setelah melewati gerbang dengan tertib, di tengah tanjakan ada kejadian lucu. Angkot jenis Daihatsu Zebra yang mengangkut teman-teman Bandung Klunkerz rupanya tidak cukup kuat menapak tanjakan aspal yang permukaannya sudah tidak mulus lagi itu, di sana-sini batu-batu sebesar kepala bayi cukup menghambat laju angkot tersebut.

Beberapa kali terpaksa teman-teman Bandung Klunkerz turun berjalan kaki untuk mengurangi beban angkot. Sampai tiga kali kejadian serupa hingga di tanjakan terakhir sebelum Trek Kobra teman-teman memutuskan untuk berjalan kaki sampai tujuan dan membiarkan angkot menyusul.
Perjalanan dari Bandung memang cukup melelahkan. Namun begitu, ketika teman-teman melihat arena downhill, yang juga sering dijadikan arena lomba internasional, seperti lomba downhil tingkat Asia Pascific baru-baru ini, tampak
semringah kembali. Sepeda diturunkan dari mobil box dengan hati-hati, ban depan dipasang kembali.
semringah kembali. Sepeda diturunkan dari mobil box dengan hati-hati, ban depan dipasang kembali.
Setelah sepeda siap kegiatan downhill Bandung Klunkerz siap dilakukan. Sebelum turun menyusur Trek Kobra kami berdoa bersama-sama dahulu. Lalu satu persatu memulai dari drop point (garis start). Diawali oleh Wisnu. Iman terakhir sekaligus tim penyisir dan orang yang selalu membawa peralatan servis sepeda di tas punggungnya.
Trek Kobra yang baru pertama kali dijajal oleh Bandung Klunkerz ini panjangnya memang hanya 1,7 KM, namun rintangannya cukup sulit dan menantang.
Rupanya keberhasilan menuntaskan Trek Kobra tidak cukup memuaskan teman-teman Bandung Klunkerz. Sebenarnya kami ingin mencobanya sekali lagi. Namun, dengan berbagai pertimbangan perjalanan dilanjutkan sesuai rencana, yaitu (offroad) downhill Cikole-Jayagiri-Leuweung Poek-Sukawana-Parongpong.
Perjalanan itu pun menciptakan satu kejadian lucu lagi. Ternyata tim navigasi melakukan sedikit kesalahan ketika memilih jalur dari arah Cikole menuju Jayagiri hingga akhirnya tersesat sejauh 6 KM menuju arah Gunung Putri. Tapi, walaupun tersesat cukup jauh suasanan tetap ceria. Hari juga masih cerah. Jadi, tak ada alasan bagi kami untuk tidak gembira.

Sampai di Jayagiri agak molor dari waktu yang direncanakan. Dalam perjalanan kembali dari jalur yang salah tadi beberapa kali kami rehat, lantaran mesti melakukan uphill yang cukup panjang. Langit yang tadinya begitu cerah perlahan-lahan mendung. Gemuruh angin mulai terdengar kencang. Titik-titik gerimis mulai berjatuhan.
Jam setengah dua belas siang Bandung Klunkerz baru sampai di Jayagiri. Rehat lagi di sebuah warung dekat warung Si Emak (begitu para warung milik seorang ibu yang biasa menjajakan dagangan dan menjadi tempat rehat para petualang yang melintasi Pegunungan di Jayagiri-Cikole dan sekitarnya).
Kurang lebih jam 12.00 WIB, hujan deras tidak bisa dihindari oleh Bandung Klunkerz sementara perjalanan masih jauh. Kami pun buru-buru melanjutkan perjalanan kembali meski hujan turun sangat deras. Sebab, menanti hujan reda saat itu barangkali bukan pilihan terbaik. Kami memutuskan untuk mengikuti irama alam dengan bersepeda menembus hutan-hutan dalam hujan.

Hampir tak ada kesalahan jalur lagi setelah dari Jayagiri, meski jarak pandang dalam hujan tidak lebih dari 10 meter. Semua jalur menuju titik akhir di Parongpong dilalui dengan baik. Hanya ada satu kendala yang dirasakan oleh Bandung Klunkerz, yaitu dingin yang menusuk-nusuk tulang.
Seperti yang dialami oleh Bojes. Ia sendiri sebenarnya tidak cukup fit hari itu. Sehari sebelumnya ia menderita diare, namun ia tidak ingin melewatkan perjalanan bersama teman-teman Bandung Klunkerz hari itu. Meski harus menderita dingin yang parah dan merasakan kram perut, ia tetap menguatkan diri untuk menuntaskan perjalanan.
Bukan hanya Bojes sebenarnya yang kedinginan luar biasa hari itu, namun hampir semuanya menggigil. Aflah si kecil pemberani tetap kuat menempuh perjalanan yang cukup ekstrim kali itu. Begitu juga teman-teman yang lain tetap semangat.

Satu lagi yang mungkin tidak akan pernah melupakan perjalanan ekstrim hari itu adalah Yussak. Ia terpaksa menunggangi klunkerz yang ia beri nama Silvie dengan kondisi yang kurang fit. V brake klunkerz-nya tidak bekerja dengan baik sehingga membuatnya menuruni turunan curam dengan deras. Dan pedalnya longgar, sayangnya teman-teman tidak membawa kunci untuk pedal, lantaran jarang kejadian pedal longgar di tengah perjalanan. Akibatnya, beberapa kali Yussak terjatuh.
Pada kecelakaan yang terakhir dampal kaki kirinya luka terbentur batu ketika mencoba mengerem sepeda dengan kaki. Akhirnya, ia memutuskan untuk menuntun sepeda dari Sukawana menuju Parongpong karena sudah soak menunggangi klunkerz tanpa rem di turunan curam.Dan yang paling akan dikenang dan diingat dari perjalanan ekstrim hari itu oleh Bandung Klunkerz adalah suasana hutan di dalam hujan yang sangat puitis. Jajaran pohon cemara berselaput kabut tipis. Pemandangan yang tak mungkin bisa diciptakan manusia mana pun. Dalam perjalanan ekstrim itu, kami merasakan betapa dekat dengan Sang Pencipta.
Bandung, 26 November 2012
twitter: @opopet
*Sayangnya tidak ada dokumentasi ketika hujan deras, karena device kami rentan jika terkena hujan
**Foto-foto oleh Iman, Yussak, dan Opet
**Foto-foto oleh Iman, Yussak, dan Opet



nice post
BalasHapus